Pemaparan dari paper Dian Novita Fitriani tentang Penjiwaan Profesionalisme Pustakawaan

Artikel
Hari kedua dari serangkaian acara Kongres XIII dan Seminar Ilmiah Ikatan Pustakawan Indonesia ini dilaksanakan di hotel Grand Inna Muara, Kota Padang. Acara hari ini diisi penuh dengan berbagai seminar tentang perpustakan dan kepustakawanan. Pembicara didatangkan dari lingkup nasional maupun internasional dari berbagai latar belakang profesi. Mulai dari pemaparan tentang Perpustakaan Nasional RI oleh Ibu Sri Sularsih, ditambah pemaparan tentang “Preservation of Knowledge and Digital Libraries” yang diterapkan di National Library Board of Singapore oleh Ngian Lek Choh, dan berbagai pemateri dari para stakeholder pengambil kebijakan tingkat legislatif maupun eksekutif. [caption id="attachment_213" align="alignnone" width="362"] Dian Novita F sedang mempresentasikan Penjiwaan Profesionalisme Pustakawaan[/caption] Pada sesi IV yang merupakan sesi paralel dari Seminar Ilmiah diisi dengan presentasi dari beberapa pustakawan berprestasi dan pemenang Call For Paper. Perwakilan YPPI, Dian Novita Fitriani mendapatkan…
Read More

Dian Novita Fitriani Pemenang Call For Paper 2015 , Penjiwaan Profesionalisme Pustakawan.

Artikel
Hasil penelitian Ina Liem yang menjelaskan bahwa dari hasil polling terhadap 5.614 siswa SMA di Indonesia pada tahun 2013 hanya ada 1 siswi yang berminat menjadi pustakawan. Pustakawan masih sering dianggap sebagai pekerjaan tukang, bersifat birokratis, teknis dan eksklusif. Hal ini dikarenakan adanya beberapa faktor yang terjadi yang berhubungan dengan organisasi yang melingkupinya, yaitu perpustakaan. Profesi ini masih dipandang sebelah mata. Masyarakat masih memiliki anggapan bahwa kerja pustakawan hanya sebagai penjaga buku dan bekerja di tengah rak yang berisi ribuan buku yang menjulang tinggi. Hal ini disebabkan oleh munculnya dehumanisasi akibat adanya sistem sosial yang patrimonial, birokrasi yang muncul bersifat otoriter dan sentralistik, bisa dikatakan bersifat kaku, personal, dan emosional. Sehingga dampak sosial yang dapat terjadi adalah dengan adanya sistem tersebut mampu mengikis semangat dan kapasitas PUSTAKAWAN untuk bertindak secara…
Read More

Membayangkan Satu Desa Satu Perpustakaan

Artikel
YPPI- Saya pikir mestinya pemerintah risau kenapa sampai sekarang rata-rata warga Negara ini tidak suka membaca buku. Sekolah juga mestinya risau kenapa murid-murid lebih suka tawuran atau keluyuran di mal ketimbang membaca buku.” Pada suatu pagi, tiba-tiba saya ingin menulis menulis cerita yang memuat adegan tentang kemarahan orang banyak. Saya pernah melihat seorang pencuri pakaian dipukuli oleh sejumlah orang –itu kejadian lebih dari dua puluh tahun lalu. Ingatan tentang peristiwa tersebut sudah mulai samar-samar dan yang tertinggal di kepala saya hanya gambar tentang seorang teman yang sangat bergairah untuk ikut menendang dan memukul pencuri itu. Saya liat ia seperti melampiaskan kekesalannya, mungkin karena skripsinya tidak kunjung selesai, kepada pencuri yang tertangkap. Bertahun-tahun setelah itu, kesadisan bentuk hukuman yang tertangkap tidak berkurang. Kita pernah mendengar atau membaca berita tentang pencuri yang…
Read More

Improvisasi Perpustakaan Dan Pustakawan Di Hari Kunjung Perpustkaan

Artikel
14 September HARI KUNJUNG PERPUSTAKAAN Memahami makna hari kunjung perpustakaan tidak terlepas dari sejarah, kenapa Hari Kunjung Perpustakaan jatuh pada tanggal 14 September. 31 tahun yang lalu Perpustakaan Nasional berdiri di Jakarta dan pada hari tersebut sebagai momentum Hari Kunjung Perpustakaan. Ketika kita bertanya , apa saja yang (harus) dilakukan ketika kita mengunjungi perpustakaan ? tentunya ada banyak jawaban kalau kita banyak bertanya pada banyak orang, yang jelas bahwa pertanyaan harus diajukan pada siapa dengan kepentingan apa. Kalau pertanyaan tersebut di sampaikan kepada Pustakawan maka akan berbeda dengan ketika kita bertanya pada pemustaka atau yang lebih popular disebut sebagai Pengguna (pengunjung) perpustakaan. Bagaimana jika pertanyaan tersebut diajukan kepada masyarakat kelas marjinal yang hanya paham, perpustakaan adalah tempat atau ruang yang berisi banyak buku. Apakah Pemerintah bias mengakomodir semua kebutuhan pengguna…
Read More

Inspiring Youth Educators, Anak muda Peduli Pendidikan Tidak Menyerah Meski Sempat Sepi Peminat

Artikel
YPPI- Pendidikan belum merata di Surabaya. Setidaknya, inilah yang ditemukan sekelompok orang yang tergabung di Inspiring Youth Educators. Alih-alih hanya mengeluh, mereka langsung bergerak ke kampung-kampung. WAJAH sepuluh anak SD itu terlihat ceria. Meski cuaca terik dan tengah berpuasa, tidak tampak sedikit pun keluh kesah dari bibir mungil mereka. Bahkan, dengan bersemangat, bocah-bocah tersebut bertukar buku satu sama lain. Lalu, mereka bercerita seru. Mereka terus asyik bercerita meski hanya di tempat sederhana yang bertulisan Kantor Balai RT V, Bratang Wetan, Kecamatan Wonokromo. Mereka ditemani dengan penuh semangat oleh dua mahasiswa. Bahkan, dua mahasiswa tersebut tidak sungkan mengajak bocah-bocah itu bermain setelah keseruan membaca buku. Mereka pun membentuk lingkaran. Lalu, bermain tebak nama. Yang mendapat giliran harus segera menyebutkan nama. Pilihannya kali itu adalah nama-nama nabi. Meski ada beberapa anak yang…
Read More

Mengatasi Ketidakadilan Buku

Artikel
Mari kita berbicara tentang Indonesia. Bukan hanya Surabaya, Jogyakarta, Semarang, Bandung dan Jakarta. Kita punya Sabang, Manokwari, Ambon, Kupang, Lombok dan daerah-daerah diujung luar kawasan Indonesia Timur lainnya. Kita memiliki 17.504 pulau, 1.128 suku, 750 bahasa daerah. Jumlah penduduk kita separo dari negara-negara ASEAN. Ada 250 juta orang berpikir bebas. Kalau kita bayangkan peta Indonesia, dari Aceh sampai Papua dan sama-sama pergi ke Frankfurt, peta Eropa itu akan tertutup peta Indonesia. Sebab, besarnya Indonesia itu merentang dari London sampai Moskow. Kita satu negara, mereka puluhan negara (Agus Maryono, 2014). Ketimpangan Buku Di Indonesia, per tahun sekitar 30.000 judul diterbitkan. Dengan asumsi tiap terbit dicetak 3.000 eksemplar, total buku yang beredar 90.000.000 eksemplar. Besar memang, tapi karena jumlah penduduk kita juga besar (250 juta jiwa), indeks reading per capita kita hanya…
Read More