Definisi Literasi

Kita tentu sering mendengar istilah literasi digunakan di berbagai konteks dan tempat. Namun, definisi literasi sendiri terasa belum secara umum dikenal di khalayak luas. Definisinya sendiri beragam dari para ahli maupun instansi terkait literasi. Definisi literasi secara tradisional atau konvensional biasanya hanya terbatas pada kemampuan seseorang dalam baca dan tulis saja.

“Literasi adalah kemampuan mengidentifikasi, memahami, menginterpretasikan, membuat, mengkomunikasikan dan memperhitungkan, menggunakan bahan informasi tercetak dan tertulis yang diasosiasikan dengan konteks yang beragam” (UNESCO, 2004). “Literasi mencakup pembelajaran terus menerus/sepanjang hayat dalam memungkinkan individu mencapai tujuan mereka, untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi mereka, dan untuk berpartisipasi dalam komunitas dan masyarakat yang lebih luas.” (UNESCO, 2017).

Rita Baleiro (2011), menyatakan bahwa “Literasi jauh lebih dari sekadar “kemampuan individu dalam memproses informasi tertulis dalam hidup sehari-hari” sebagaimana umumnya didefinisikan. David Barton (2009) berargumen bahwa literasi merupakan social nature, sensitif secara kultural, dan selalu tertanam dalam situasi dan konteks khusus. Itulah mengapa definisi literasi sangat luas dan heterogen.”

Secara kompleks, literasi dapat diartikan sebagai seperangkat kemampuan individu, tidak hanya terbatas hanya pada baca tulis, namun juga kemampuan diri yang lain berupa kemampuan menggunakan potensi diri, memahami informasi, kritis, berkomunikasi dan pemecahan masalah dalam kehidupan.

Jenis/Komponen Literasi

Dalam konteks literasi informasi, Brian Ferguson menyatakan bahwa literasi informasi mencakup 5 (lima) komponen penting:

  • Literasi dasar : mencakup baca tulis, bicara dan dengar, hitung, persepsi dan menggambar.
  • Literasi perpustakaan : mencakup pengetahuan dan kemampuan akan jenis sumber informasi, sistem klasifikasi (Dewey), katalog dan indeks, proses penelitian/riset.
  • Literasi media: mencakup berbagai jenis berbeda dari media, dan tujuannya.
  • Literasi teknologi
  • Literasi visual. Menurut Brian Stonehill dari Pomona College, California, literasi visual adalah kemampuan dan pembelajaran yang diperlukan untuk melihat bahan visual dan audio/visual secara skeptis, kritis, dan dengan pengetahuan luas.

Pendapat lain juga ada yang menyatakan jenis literasi lain seperti literasi komputer, literasi budaya, literasi finansial, literasi sains dan lainnya.

Overview

Pengertian lebih modern akan literasi ditambah dengan perubahan jaman dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuat cakupan literasi lebih luas lagi. Gadget, komputer, audio-visual dan lainnya juga menjadi sumber informasi dan lengket dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Namun, barangkali nilai-nilai tradisional/konvensional masih terbawa hingga sekarang sehingga literasi sangat erat hubungannya dengan buku, bahwa untuk menjadi berwawasan, berpengetahuan luas dan orang yang memiliki kapasitas literasi baik (hanya) membaca buku. Bahwa buku seakan menjadi satu-satunya cara untuk mendapatkan informasi, berpengetahuan ataupun memiliki kapasitas kemampuan literasi yang baik.

Buku tidak diragukan lagi merupakan aset pengetahuan yang sangat masif yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia, namun untuk mendapatkan informasi, berpengetahuan luas dan berkapasitas literasi yang baik tidak hanya dari buku saja, melainkan juga terdapat berbagai media lain yang dapat memberikan jenis atau pengalaman atau dampak lain dalam proses penyerapan informasi, pemaknaan ataupun pemanfaatannya.

Sebagai contoh, melalui media film, audio, visual lainnya dan bentuk fisik lainnya, juga dapat menjadi sumber informasi bagi seseorang. Film, baik itu dokumenter maupun fiksi dapat menjadi sumber informasi dengan caranya sendiri, dengan hasilnya sendiri. Dengan memadukan literasi dari berbagai bentuk ini, individu dapat mendapatkan pengalaman, informasi dan pengetahuan serta kapasitas literasi yang lebih lengkap dan berbeda dari berbagai sumber. Apalagi dengan perubahan jaman dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, berbagai media sumber maupun penyebaran informasi tidak terbatas pada sarana/media-media tertentu saja. Kemampuan adaptasi juga barangkali vital untuk seseorang dalam memiliki kapasitas kemampuan literasi yang lebih baik.

Selain itu, literasi diyakini tidak hanya sekadar sampai kegiatan membaca atau menonton saja sehingga kuantitasnya yang dilihat. Bahwa membaca banyak buku menjadi patokan. Literasi diyakini juga mencakup kemampuan seseorang dalam memahami, menginterpretasikan, memaknai dan memanfaatkan informasi serta kritis. Hal ini juga dapat termasuk diskusi atau pemaknaan lebih lanjut terhadap suatu informasi, tidak hanya sekedar membaca tanpa arti, misalnya di ruang-ruang kelas/kegiatan belajar sekolah atau universitas, juga dengan memproduksi atau kreatif dalam menghasilkan sesuatu yang positif.

Sumber :

Baleiro, Rita. (2011). A Definition of Literacy Literacy: A content analysis of literature syllabuses and interviews with Portuguese lecturers of literature. TOJNED: The Online Journal Of New Horizons In Education, 1(4). Retrieved from https://www.researchgate.net/publication/271519153_A_DEFINITION_OF_LITERARY_LITERACY_A_CONTENT_ANALYSIS_OF_LITERATURE_SYLLABUSES_AND_INTERVIEWS_WITH_PORTUGUESE_LECTURERS_OF_LITERATURE

Ferguson, Brian. (n.d.). Information Literacy. Retrieved from www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf

Montoya, Silvia. (2018). Defining literacy [PDF File]. The Global Alliance to Monitor Learning (p. 1-10). Montreal. UNESCO Institute for Statistics. Retrieved from gaml.uis.unesco.org › sites › 2018/12 › 4.6.1_07_4.6-defining-literacy.pdf