PERPUSTAKAAN RAMAH DIFABEL

Perpustakaan sebagai salah satu pusat informasi masyarakat yang dituntut mampu menyediakan dan melayankan berbagai informasi secara tepat dan prima. Layanan informasi pada perpustakaan bagi pemustaka akan berjalan lancar manakala didukung oleh ketersediaan fasilitas yang memadai. Lantas bagaimana fasilitas perpustakaan yang disediakan untuk para pemustaka difabel?. Menurut The International Federation of Library Associations (IFLA), secara umum perpustakaan harus memperhatikan akses fisik yang mencangkup:

  1. Area perpustakaan harus dapat diakses bagi orang-orang yang menggunakan kursi roda, alat bantu jalan, atau alat bantu mobolitas lainnya. Gangguan penglihatan, orang berjalan dengan tongkat atau anjing pemandu harus bisa bergerak di sekitar perpustakaan. Orang tuli harus dapat berkomunikasi dengan petugas perpustakaan.
  2. Pintu masuk hendaknya bisa terbuka secara otomatis dan tombol lift berada di ketinggian yang tepat untuk orang yang memakai kursi roda dan pintu otomatis tetap terbuka cukup lama. Pos pemeriksaan sebaiknya cukup lebar sehingga, bisa dilalui oleh kursi roda dengan nyaman. Kaca pintu hendaknya diberi tanda pada bagian tengah untuk mempermudah pemustaka yang memiliki gangguan penglihatan.
  3. Ruang perpustakaan diatur sedemikian rupa serta diberi tanda-tanda yang jelas sehingga pemustaka difabel yang menggunakan kursi roda bisa mengakses informasi secara leluasa.
  4. Setiap perpustakaan harus memiliki setidaknya satu toilet yang disesuaikan untuk pemustaka difabel.
  5. Penempatan meja sirkulasi sebaiknya dekat dengan pintu masuk dan disesuaikan dengan pemustaka difabel sehingga, pustakawan dapat berkomunikasi dengan pemustaka yang sedang duduk di kursi roda.
  6. Children department, artinya menyediakan ruang khusus bagi anak-anak yang memiliki berbagai jenis gangguan. Tujuannya agar mereka bisa memilih buku, mendengarkan cerita atau mengambil keuntungan dari layanan dan program-program yang disediakan oleh pustakawan. Penempatan rak buku juga harus dapat diakses oleh tiap anak difabel.
  7. Pustakawan harus memahami dalam memberikan pelayanan kepada pemustaka difabel. Misalnya, melakukan sentuhan hangat saat berkomunikasi dengan pemustaka tunanetra. Selain itu, perpustakaan memiliki alat pendukung bagi kegiatan belajar seperti lensa pembesar, tapi recorder, perangkat pembaca layar, keyboar braille, dan sebagainya.
  8. Komputer pada perpustakaan hendaknya dapat digunakan oleh setiap pemustaka difabel. Meja komputer sebaiknya disesuaikan dengan kondisi pemustaka yang menggunakan kursi roda.

Penyediaan fasilitas perpustakaan sebaiknya meminta rekomendasi dari organisasi cacat nasional atau lokal sehingga memiliki nilai fungsi yang tepat. Sementara dari aspek layanan informasi dan komunikasi, pustakawan harus mampu berkomunikasi dengan baik, jelas dan mudah dimengerti. Hal ini penting untuk memudahkan pemustaka difabel dalam menerima informasi serta pelayanan yang nyaman.

Sumber : Aziz, Safrudin (2014), Perpustakaan Ramah Difabel, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

About the author: Fithan