Tumbuhkan kebiasaan membaca, mungkin kah?

Faktanya, rata-rata orang di dunia membaca kurang dari satu buku per tahunnya. Terlebih di Indonesia, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen (UNICEF, 2012). Ironi, di saat perpustakaan skala nasional sudah memadai dan tanpa memungut biaya justru kendala utama terdapat pada jumlah pengunjung yang sepi karena rendahnya minat masyarakat Indonesia untuk membaca. Selain Pemerintah yang telah menggalakan gerakan membaca 15 menit pada siswa sebelum pelajaran dimulai, masyarakat termasuk kita wajib mendukung gerakan tersebut dengan menumbuhkan kebiasaan membaca di rumah.

Memiliki buku di rumah dua kali lebih penting daripada tingkat pendidikan Ayah (Research in Social Stratification and Mobility, 2010). Masih ingat kisah seorang anak tukang becak yang menjadi lulusan terbaik di kampusnya dan mendapat beasiswa ke Inggris? Hal tersebut membuktikan bahwa dengan pembelajaran berulang dan tekad, seseorang dapat mengubah jalan hidup dan meningatkan kualitas hidupnya.

Di sisi lain, menumbuhkan kebiasaan membaca pada diri sendiri atau anggota keluarga tanpa menyediakan buku yang memadai sama saja seperti memberi saran orang yang kelaparan untuk makan tanpa ada makanan yang tersedia. Memiliki pojok baca di rumah dengan suasana kondusif dapat menumbuhkan minat baca. Tidak perlu ‘perpustakaan mini’ dengan setumpuk buku yang banyak, ruang kecil di sudut rumah dapat dimanfaatkan menjadi pojok baca hanya dengan meja kaki, karpet, rak kecil, juga buku yang ada di rumah yang penempatan buku telah disusun sesuai kategori. Akan lebih menarik jika disampul plastik agar buku tidak mudah kotor dan rusak.

Pojok baca disediakan sebagai stimulasi agar ketertarikan orang rumah untuk membaca buku meningkat. Terutama bagi Anda yang memiliki anggota keluarga usia prasekolah, baik anak, adik, atau pun keponakan yang masih balita. Letakkan juga alat peraga edukatif atau mainan edukatif di sekitar pojok baca. Dengan demikian, kosakata yang ia tahu akan bertambah seiring dengan seringnya ia membaca buku. Tidak hanya anak usia prasekolah, remaja atau dewasa pun harus tetap mencontohkan budaya membaca buku. Mari tumbuhkan minat baca mulai dari lingkungan terkecil, yakni di rumah sendiri. Bukan hal mustahil jika membaca menjadi sebuah kebiasaan masyarakat demi menciptakan generasi yang melek literasi.

Salam literasi!