Ternyata sekadar memiliki kemampuan membaca, menulis dan aritmatika (calistung) saja belum dapat dikatakan melek literasi. Lebih dari sekadar mengenal aksara, memahami dan menginternalisasi nilai yang ia dapat dari membaca, menulis dan berhitung lah yang disebut literasi. Tidak berhenti sampai di situ, makna literasi adalah kondisi ketika seseorang mampu menginterpretasikan, mengaktualisasikan, dan mengamalkan pada orang lain dan menghubungkan antara nalar dan norma berdasarkan makna yang ia ambil.

Seperti apa literasi pada kehidupan sehari-hari?

Sederhana saja, ketika penumpang Kereta Rel Listrik selain orang yang berhak mengisi tempat duduk prioritas–yakni Ibu mengandung atau Ibu yang membawa anak kecil, orang lanjut usia, dan penyandang disabilitas. Memang, ketika gerbong KRL sepi dan tidak banyak penumpang, sah-sah saja untuk duduk di bangku prioritas tersebut. Namun, lain halnya ketika kondisi gerbong sedang ramai, orang yang diprioritaskan justru berdiri dan orang yang non-prioritas menempati tempat duduk prioritas. Padahal, ia tahu, paham, tetapi tidak mengamalkan. Itu lah orang yang tidak melek literasi.

Contoh lain lagi, sebagai lanjutan dari gambaran sebelumnya. Ketika seseorang melek literasi, meskipun ada penumpang yang selain 3 kategori yang diprioritaskan namun terlihat kurang sehat dan membutuhkan tempat duduk, maka ia akan memberikan tempat duduknya pada orang tersebut. Terkait dengan pendidikan moral, langkah utama yang harus diterapkan ialah melek literasi.

Sehubungan dengan visi YPPI yakni pencerdasan masyarakat melalui pemberdayaan perpustakaan, maka literasi menjadi ruh dalam lembaga ini sebagai raganya. Cerdas yang dimaksud lebih dari sekadar deretan angka yang ada di transkrip akademik, melainkan menyentuh aspek intelektual dan sosial. Melalui pemberdayaan perpustakaan, YPPI akan berupaya mewujudkan masyarakat yang cerdas dengan melek literasi sebagai indikatornya, karena bangsa ini tidak kekurangan orang cerdas, namun kekurangan orang yang melek literasi.

Salam literasi!